KOREKSI SKOLIOSISTANPA OPERASI

KOREKSI SKOLIOSISTANPA OPERASI

Sang Ayu Putu Cintya Maharani, seorang penari Bali, mengetahui dirinya menderita skoliosis ketika duduk di bangku SMP. Dia tak menyadari kondisi tersebut. Ibunyalah yang mengetahui hal tersebut pertama kali. “Waktu mau fitting kebaya, ibu menyadari kok punggung sebelah kanan lebih besar, ya,” kata perempuan berusia 22 tahun ini, kemarin. Cintya akhirnya didiagnosis mengalami skoliosis idiopatik dengan kelainan kurva 45 derajat. “Saya melakukan berbagai macam terapi ditambah dengan yoga dan pilates,” kata dia. Dia juga memakai brace untuk mengoreksi kelainan kurvanya selama enam bulan. Namun kurvanya justru kian bertambah menjadi 53 derajat. Skoliosis merupakan kelainan pada rangka tubuh yang menyebabkan kelengkungan tulang belakang. Kondisi ini dapat terjadi pada anakanak dan dewasa. Menurut dokter ahli ortopedi Ninis Sri Prasetyowati, skoliosis dapat terjadi bahkan sejak bayi.

“Masyarakat kita kurang teredukasi mengenai skoliosis ini,” kata dia. Padahal, menurut Ninis, prevalensinya kian meningkat, sekitar 3 persen di seluruh dunia, dan sekitar 5 persen di Indonesia. Skoliosis dapat terjadi karena faktor genetik, kelainan congenital atau bawaan dari lahir, kelainan pembentukan tulang, habitual, dan idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya. “Sebanyak 80 persen kasus merupakan skoliosis idiopatik dan skoliosis lebih banyak terjadi pada perempuan,” kata dia. Perbandingannya 1 : 8. Menurut ahli fisioterapi dari Scoliosis Care, Nistriani T.P. Kusaly, perempuan lebih rentan terkena skoliosis karena massa otot perempuan lebih sedikit ketimbang laki-laki. Selain itu, tulang belakang perempuan dianggap lebih lentur ketimbang laki-laki yang lebih tebal. “Sehingga perempuan lebih mudah mengembangkan skoliosis ketimbang laki-laki, tetapi cenderung lebih mudah dikoreksi ketimbang lakilaki,” kata dia. Nistriani mengatakan skoliosis berpotensi mengancam nyawa jika tak ditangani dengan tepat. Seiring dengan usia, skoliosis yang tidak ditangani akan memburuk. Tulang rusuk akan semakin melengkung sehingga menekan paru-paru dan jantung. Akibatnya, penderita akan kesulitan bernapas, jantung akan kesulitan memompa darah, dan mengalami pneumonia. “Risiko tersebut mengintai orang dengan skoliosis di atas 70 derajat,” kata dia. Karena itu, kata Nistriani, penanganan skoliosis tak dapat disepelekan. Ninis mengatakan penanganan skoliosis dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya terapi non-operasi. Metode ini umumnya dilakukan dengan pemakaian brace, yang diimbangi dengan latihan fisik untuk menguatkan otot. “Brace berperan mengoreksi kurva, terutama bagi pasien yang memiliki kurva lebih dari 20 derajat, ditambah dengan exercise yang disesuaikan dengan bentuk kurva, bukan exercise konvensional,” kata dia. Tapi skoliosis dengan derajat 60 ke atas memerlukan tindakan operasi untuk dikoreksi.

 

Ahli fisioterapi dan anatomi Labana Simanihuruk menjelaskan brace atau penunjang yang tepat adalah kunci keberhasilan koreksi. “Ada anggapan umum bahwa penderita skoliosis dewasa berusia di atas 17 tahun tidak bisa disembuhkan. Namun penggunaan brace yang akurat dan disiplin, disertai exercise rutin, akan mengurangi sakit dan mampu mengoreksi kurva sedikit demi sedikit,” kata dia. Labana mengatakan brace secara klinis terbukti mengurangi lengkung pada skoliosis dan kifosis, mengurangi sakit, memperbaiki postur, memperlambat pertumbuhan kurva, mengurangi tonjolan iga, dan mensejajarkan bahu dan pinggang. Menurut dia, brace bisa saja tidak efektif jika desainnya kurang akurat. Agar makin akurat, teknologi pemindaian tiga dimensi dikembangkan untuk memindai tubuh pasien skoliosis. Menurut Labana, teknologi ini mengandalkan laser scanner, sinar-x, dan foto postur tubuh yang memastikan bentuk brace sesuai dengan derajat dan postur pasien. “Brace juga harus bisa disetel mengikuti perkembangan kurva pasien,” kata rehab clinician Scoliosis Care ini. Dia menyarankan pengguna brace untuk aktif bergerak guna menguatkan massa otot. Tujuannya, agar ketika brace dilepas, kurva tidak kembali memburuk. Labana mengklaim beberapa pasien yang menggunakan brace keluaran Scoliosis Care ini mencapai penurunan kurva, meski di usia dewasa. Seperti Cintya yang saat ini sudah terkoreksi menjadi 35 derajat dari sebelumnya 53 derajat. Ada juga pasiennya yang sudah berusia 58 tahun dengan kurva lumbar 26 derajat dan kifosis 19 derajat terkoreksi menjadi 20 derajat dan 12 derajat. “Untuk pasien manula, penggunaanbracetidak lagi untuk mengejar koreksi, tetapi untuk memperbaiki kualitas hidup,” kata dia.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *